Untuk yang terkasih,
Sudah berapa lama
tenggelam dalam ketidakpastian. Saling bertemu tetapi sulit untuk memahami.
Seandainya aku boleh bertanya? Saat ingin memasuki rumah, sebaiknya menggunakan
kunci atau merusak pintunya.
Pasti dengan kunci, itu
adalah jawaban mudah. Kunci ibarat restu. Tetapi jika memang merusak adalah
cara satu-satunya. Apakah yakin tidak ada bekas kerusakannya.
Memasuki masa
ketidakmampuan untuk selalu berkabar. Pengertian dan dukungan adalah hal penting
untuk hati yang sedang resah.
Hati kecilku sebagai
pewara,
Apakah senyumku ini bisa
menutupi rasa yang berjalan tanpa restu. Harus selalu bersembunyi bahkan
berbohong sampai bibir tak kuasa menahannya.
Jika memang Yang Maha
Penyayang dan Pengasih memberikan jalan untuk menjaga hati kita masing-masing.
Aku sudah merelakannya,
Tak kuasa, rindu runtuh
seketika saat air mata luluh dengan lantunan doa.
Perlu kamu tau, senyum
yang terbaik datang dari mereka yang sering menangis. Dalam perjalanan qyang indah
bersamamu, kebahagiaan selalu bersamaku.
Melepaskan adalah cara
mencintai yang terbaik. Aku selalu berdoa, jika kau mudahkan aku bersamamu
lanjutkan sampai hati ini tidak tau caranya untuk berpaling. Tetapi jika layu
rasa sayang ini begitu kuat, aku ikhlas kita ditakdirkan untuk saling
mendoakan, berjalan beriringan dan akhirnya tidak bisa disatukan.
Kita sudah berjalan dalam
ruang yang berbeda, tidak seperti anak remaja yang hidup sepenuhnya berlumur
rindu dan pertemuan.
Saling melengkapi dalam
prioritas masing-masing. Jika daun menguning jatuh karena terpaan angin, jangan
salahkan angin menyentuhnya dengan tiupan rindu. Salahkan takdir kenapa aku
sebagai batang tidak ikut andil dalam jatuhnya daun itu.
Dengan keyakinan hati,
Yang terbaik adalah menjaga
hati kita masing-masing,
Yang pertama belum tentu
jadi yang terakhir,
Semoga ini adalah pesan
yang bisa tertanam serta bisa menumbuhkan senyuman baru untuk kita berdua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar